Rabu, 08 Januari 2014

asta dasa berata



Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu Ajaran Kepemimpinan Gajah Mada - Paris Sweet Home
Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu Ajaran Kepemimpinan Gajah Mada
Oleh Ahmad Prajoko
A rti kata Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu : Asta Dasa artinya 18 (delapan belas). Berata artinya pengendalian diri yang merupakan kewajiban pokok seorang pemimpin. Pramiteng Prabu artinya Raja (Kepala Negara). Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu artinya 18 (delapan belas) kewajiban pokok pengendalian diri seorang pemimpin.


Gajah Mada Keturunan Dewa Brahma

Patih Gajah Mada populer sebagai seorang tokoh nasional pada masa kejayaan Majapahit. Banyak karya sastra dan mitos yang berkaitan dengan tokoh yang mempersatukan Nusantara sampai ke Kepulauan Madagaskar, Malaysia, hingga Filipina selatan. Salah satu karya sastra tersebut adalah Kakawin (nyanyian sakral) Gajah Mada (disingkat KGM). Dalam KGM ditemukan berbagai taktik, strategi, dan ajaran kepemimpinan yang dilaksanakan Mahapatih Gajah Mada yang relevan untuk dikaji dari perspektif model kepemimpinan Hindu dalam masyarakat Bali. Tentunya ada pula hal-hal negatif yang tidak patut untuk diteladani. Pengarang kakawin adalah Ida Cokorda Ngurah dari Puri Saren Kauh Ubud.

Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu Ajaran Kepemimpinan Gajah MadaTokoh Gajah Mada begitu dikagumi, sehingga terbentuk berbagai mitos tentang dirinya. Dalam KGM tidak hanya mitos tentang Gajah Mada, yang ditampilkan sebagai berikut : Gajah Mada sebagai Keturunan Dewa Brahma. Dalam KGM, Gajah Mada dijadikan sarana citra, keluarga serta keturunannya sebagai anggota yang terhormat dari masyarakatnya. Penyair KGM menganggap Gajah Mada seorang yang digjaya Nindyeng sarat (jaya tidak tercela di seluruh dunia).

Sebagai tokoh, digambarkan kesempurnaan dirinya yang mampu memasukkan dewa-dewa kahyangan ke dalam tubuhnya, seperti ajaran kepemimpinan yang populer dengan nama Asta Berata yang dituangkan dalam kakawin Ramayana.

Sumber ajaran kepemimpinan Asta Berata ini adalah Kitab Manawa Dharma Sastera. Demikian juga Gajah Mada disebutkan mampu tampil sebagai Dewa asmara yang tampan, cemerlang dan jaya yaitu :
(1) Tokoh yang pada mulanya datar, namun dapat membuat kejutan dengan menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak terpuji, misalnya dalam menghadapi Kebo Wawira (Kebo Iwa)
(2) Jaya secara lahiriah, ialah sebagai pencetus gagasan-gagasan yang dapat mengantarkannya mencapai kedudukan yang tinggi sebagai Mahapatih kerajaan Majapahit
(3) Kejayaan dalam pemikirannya didapat berkat keturunannya yang agung dan juga karena bakti, ketaatan dan kesetiaannya pada mereka yang diabdinya, terutama raja
(4) kejayaan batin didapat berkat sifat-sifat tersebut di atas pada guru agama dan pada ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab agama sebagai persiapan menuju Moksa (rohani dan jasmani langsung ke Sorga Loka). Gajah Mada adalah sosok orang Indonesia berdarah rakyat, meskipun ditulisnya juga bahwa kepercayaan orang Bali, Gajah Mada adalah penjelmaan Sang Hyang Narayana (Dewa Wisnu) ke atas dunia.

Karena dalam agama Hindu, sifat-sifat kepemimpinan yang menonjol biasanya diambil dari sifat-sifat dewa Wisnu atau Narayana, yang tampak dalam setiap penjelmaan (awatara-awatara)-Nya.

Ajaran kepemimpinan dalam KGM dapat dijumpai pada bagian awal hingga akhir dari karya sastra kakawin ini. Seorang pemimpin hendaknya :
1) Rajin sembahyang, meditasi atau samadhi. Digambarkan bahwa sejak anak-anak, Gajah Mada suka sembahyang atau meditasi. Meditasi sering dilakukan malam hari dan sering mendapatkan vision (penglihatan) dewata yakni mendapat petunjuk dari dewa Brahma, ayah spiritualnya.
2) Menjadi pelopor dan memiliki wawasan ke depan. Gajah Mada selalu menjadi pelopor dan mengambil inisiatif yang pertama serta bekerja keras diantara teman-teman sebayanya.
3) Mampu memberi semangat dalam kerja keras dan berat, terutama dalam memajukan sistem pertanian. Gajah Mada mampu memotivasi sesamanya. Kharismanya tampak sejak anak-anak, kemana Gajah Mada pergi diikuti oleh teman-teman sebayanya.
4) Ahli memimpin, termasuk memimpin sidang, hatinya terbuka dan kata-katanya manis bagai air kehidupan. Dalam berbagai kesempatan Gajah Mada digambarkan dapat memimpin sidang, memiliki keterbukaan dan memimpin yang memberikan kesejukan kepada bawahannya.
5) Mampu menarik simpati, cerdas dan kreatif. Hal ini tampak ketika Gajah Mada pertama kali mengabdikan dirinya di istana maha patih yang sudah mulai tua yang bernama Arya Tadah, dan kemudian dia dikawinkan dengan putrinya yang bernama Dyah Bebed. Kecerdasan Gajah Mada tampak pula ketika ia ingin mengetahui wajah asli raja Bedahulu dengan cara minta dijamu sayur pakis yang utuh sedepa panjangnya, lauk pauknya setumpuk usus ayam, minumnya satu bumbung legen, ia bersedia makan dihadapan raja. Dengan cara demikian itu Gajah Mada akan mudah melihat wajah raja Bali pada saat itu, dan raja tidak boleh membunuh utusan raja Majapahit ini, apalagi yang bersangkutan sedang menikmati makanan.
6) Sopan dan ramah. Gajah Mada sangat sopan dan ramah ketika ia ditanya oleh Kebo Wawira (Kebo Iwa) dan Pasung Grigis tentang maksud kedatangannya ke Bali. Gajah Mada diutus oleh raja Jawa yang mempunyai putri yang sangat cantik, tiada duanya di Wilatikta, dan memuji Kebo Wawira (Kebo Iwa) supaya bersedia mengawini putri Jawa tersebut. Karena penampilannya yang sopan dan ramah, akhirnya Kebo Wawira (Kebo Iwa) berhasil ditipu oleh Gajah Mada.
7) Senantiasa menuntut ilmu pengetahuan, tidak mementingkan kesukaan duniawi, mempelajari kitab suci, dan melaksanakan upacara yadnya.
8) Senantiasa melindungi warga dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat, menegakkan keadilan.
9) Seorang pemimpin hendaknya gagah berani, bertanggung jawab, dan tangguh dalam menghadapi berbagai masalah, tunduk kepada aturan (hukum). Tidak menghina rakyat jelata, dan tidak menjilat kepada penguasa (atasan).
10) Menghormati orang bijaksana, menghargai para pahlawan, dan senantiasa melakukan tapabrata dan semadhi.

Penyusun KGM rupanya telah membaca semua referensi dalam naskah-naskah Bali. Hal ini tampak mengkirstal dalam 10 butir ajaran kepemimpinan dalam KGM. Walaupun ajaran tersebut sangat ideal namun Gajah Mada juga melakukan strategi atau taktik politik yang licik, yakni melakukan penipuan, baik terhadap raja Majapahit yang menghubungkan bahaya kelaparan di Majapahit akibat perbuatan raja Bali. Demikian pula ia telah menipu Kebo Wiwara dan Pasung Grigis. Dalam khasanah sastra Bali memang terdapat adigium musuh wenang linyokin (musuh dapat ditipu atau dibohongi), hal ini tentu mengurangi kredibilitas kepemimpinan yang dilakukan Gajah Mada.

Pembagian wilayah serta menempatkan penguasa dengan Sistem Majapahit di Bali. Sistem ini rupanya merupakan kelanjutan dari sistem yang diterapkan pada zaman Bali kuno yang dikenal sebagai ajaran Mpu Raja Krita yang menjabat sebagai Senapati Kuturan yang kemudian lebih populer dengan sebutan Mpu Kuturan. Warisan monumental beliau adalah dengan adanya sistem pemrajan, banjar, khayangan tiga, dan subak.

Sistem inilah yang ditengarai mampu membentengi Bali dari berbagai perubahan akibat perkembangan kehidupan, sampai era globalisasi dewasa ini.

Ajaran kepemimpinan dalam KGM rupanya tidak jauh bila dikaji dari perspektif model kepemimpinan Hindu dalam masyarakat Bali. Karena model kepemimpinan Hindu yang dituangkan dalam kitab suci Veda dan Susastra Hindu telah dituangkan dalam khasanah kesusastraan jawa kuno atau kawi dan hal ini merupakan sumber utama ajaran atau model kepemimpinan Hindu di Bali.

Konsep atau ajaran kepemimpinan tidaklah hanya berguna bagi pemimpin atau calon pemimpin, tetapi berguna bagi setiap orang termasuk pula menjadi anggota yang dipimpin. Dengan mengerti kepemimpinan, kita memahami bagaimana seharusnya seorang pemimpin berbuat demikian pula bagaimana seharusnya seorang anggota.


Pemimpin Mesti Kendalikan Diri

Dari manakah pemimpin itu harus memulai untuk mencapai kesempurnaan? Adalah dari diri sendiri. Setiap orang jadi pemimpin dirinya sendiri. Jika sudah mampu memimpin diri sendiri, barulah ia menjadi pemimpin orang lain.

Seorang pemimpin masyarakat tidak lepas dari kepemimpinan handal yang ada pada dirinya sendiri. Tak bisa lepas dari pengendalian diri atau kontrol panca indrianya sendiri baik jasmani maupun rohani. Betapa pun pandainya, jika tanpa pengendalian diri, tanpa keseimbangan jiwa, maka dipastikan berdampak merosotnya kehidupan masyarakat yang dipimpin.

Kita bisa belajar menjadi pemimpin dari tokoh terdahulu yang diuraikan dalam kitab-kitab agama atau pun naskah-naskah kuno. Sebut saja Yudistira dalam Mahabharata, merupakan pemimpin yang menjalankan dharma, sesuai ajaran Agama Hindu yang dianutnya. Yudistira seorang raja yang baik, terbukti kehidupan rakyat Indra Prasta yang makmur. Benteng pertahanan Indra Prasta yang kuat dan ia memiliki para pendamping yang siap membantu jalannya pemerintahan, seperti Bima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, dan para Resi Bhagawan sebagai penasehat.

Suatu ketika Yudistira pernah kehilangan kontrol diri, ia kehilangan pengendalian diri dan keseimbangan jiwa. Pada saat ia diundang untuk bermain dadu, melawan raja Gandara Sakuni, Yudistira menerimanya dengan cepat. Sudah beberapa kali ia kalah, dan harta yang dipertaruhkan sudah banyak pula. Itu sudah cukup menjadi petunjuk. Namun semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ia mempertaruhkan kerajaannya. Hanya karena kontrol dan pengendalian diri, terburu nafsu menggebu dan hilangnya keseimbangan jiwa, maka Yudistira kehilangan Indra Prasta di meja judi, atas akal bulus raja Gandara Sakuni.

Hendaknya pemimpin tidak kehilangan kontrol diri dan keseimbangan. Dan perlu diingat tiga hal yang membuat pemimpin itu rusak ialah judi, berburu, bermain wanita, minuman keras, memfitnah, merampas harta benda, dan melukai badan (kekerasan ?). Untuk menjadi pemimpin yang baik hindarilah hal itu. Sesuai dengan apa yang dimuat dalam kitab Manawa Dharma Sastra, VI,7,52.

Saptakasyasya wargasya
Sarwatraiwanu sangginah
Purwam purwa gurutaram
Widyadwyasanamatmawan

Artinya :
Seorang pemimin hendaknya mengendalikan diri dari ketujuh jenis itu, sebagaimana kejahatan yang disebutkan di atas.

Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Sekali lagi, perlu pengendalian diri. Pengendalian diri memegang kontrol segala kegiatan untuk mencapai kinerja yang baik dan berhasil. Pemimpin hendaknya menjadi panutan bagi yang dipimpin dalam hal pengendalian diri. Jika sudah saling mengendalikan diri, semua akan terkontrol, tidak ada kesimpang siuran, tumpang tindih, dan kekacauan. Itulah mengapa dalam sloka-sloka mengenai kepemimpinan sangat banyak memuat tentang pengendalian diri, seperti berikut :

Indryanam jaye yogam.
Samatis theddiwanisam.
Jitendriya hi caknoti
Wage sthapayitum prajah

Artinya :
Pemimpin hendaknya siang dan malam seharusnya mengendalikan diri sekuat tenaga, karena ia telah menundukan indrianya sendiri, dapat menguasai diri, pasti mengendalikan rakyatnya.

Begitu pentingnya pengendalian diri, maka seorang pemimpin pastilah muncul sebuah taksu atau karisma, yang mampu mempengaruhi masyarakat. Namun untuk mengendalikan diri inilah yang sulit apalagi mau membuat karisma diri dan mengendalikan rakyat. Untuk itulah seorang pemimpin berpedoman pada sifat kedewataan dan menerapkannya pada kepemimpinannya. Sifat-sifat kedewataannya itu tersurat dalam sloka :

Indra nilaya markanam
Agni ca waruna sya ca
Candra wite ca yo caiva
Matra nir hertya cacwatih

Artinya :
Untuk memenuhi maksud tujuan itu, pemimpin harus memiliki sifat kekal seperti Indra, Vayu, Yama, Surya, Agni, Varuna, Chandra dan Kuwera (Manawa Dharmasastra VII, 4)

Yang dimaksud :
• Indra adalah seorang raja harus mampu mengayomi dan memberikan kehidupan seperti hujan yang turun menyuburkan tanah.
• Vayu seorang pemimpin harus adil seperti hakim,
• Yama seorang pemimpin harus tegas,
• Surya seorang pemimpin harus mampu memberikan penerangan,
• Agni seorang pemimpin harus mampu mengobarkan semangat rakyat,
• Varuna atau laut seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan luas,
• Chandra seorang pemimpin harus bisa menyejukkan hati rakyatnya, dan yang terakhir
• Kuwera seorang pemimpin itu harus berdana, untuk kesejahteraan rakyat.


Raja Mabuk Rakyat Teler

Seorang raja Kerajaan Nandaka yang bernama Birhadratha, sedang mengalami kebingungan. Ia pergi ke hutan untuk melakukan pengendalian diri, yaitu berdiri mengangkat tangannya ke atas, sambil menatap matahari. Pada hari yang keseribu dari tapa bratanya, datanglah pendeta bernama Sakyanya. “Hentikan tapa brata anda dan katakan permintaan anda. Kesaktian apa yang anda inginkan?” Raja Birhadratha menyahut dan menyatakan kebingungannya atas ketidakabadian tubuhnya. Demikian pula dengan alam mengalami kepunahan. Seperti serangga kecil bersayap, nyamuk, rerumputan, pepohonan besar, itu muncul dan lenyap. Sang raja juga bingung melihat mahluk-mahluk besar memiliki superioritas yang lebih besar. Mereka dapat menghancurkan para Gandharwa, Asura, Yaksha, Rakhasa, Bhuta, mahluk halus, hantu, ular, dll.

Manusia identik dengan alam. Ketika manusia diberi kedudukan sebagai Raja, ketika salah mengendalikan dirinya maka seolah-olah alampun mempercepat kehancuran dirinya. Demikian juga ketika dia mampu mengendalikan dirinya, maka alampun dirasakan ikut mendukung karena alam dipercayai sebagai penyebab membawa kebaikan maupun keburukan.

Dalam Nitisastra disebutkan kalau raja saleh, rakyatpun saleh, raja jahat rakyatpun jahat. Rakyat akan mengikuti sang raja, sebagaimana raja begitulah rakyatnya.

Selanjutnya dijelaskan dalam Ramayana pada saat Rama menyerahkan Terompah, sebagai simbolis kekuasaan kepada Bharata, dengan wejangan sebagai berikut : “Hilangkah sifat-sifat angkara murka, penghinaan jangan dilakukan, lenyapkan orang mabuk, perbuatan baik merupakan sahabat mulia dan utama. Kemarahan dalam hati harus dihilangkan. Dosa yang bertubi-tubi menimbulkan keonaran dan kehancuran. Rakyat yang baik budi dan setia akan berbalik haluan. Kawan baik makin menjauh, musuhlah yang mendekat. Dosa besar orang yang doyan minum, mabuk, hilap hatinya, pelupa, gelisah, sombong, tekebur, angkuh dan jahat, dan berniat jahat. Lagi pula jangan bohong dan berbuat hina, akan menimbulkan keonaran yang sudah tentu akan menjadi buah bibir. Lagi pula bila ada rakyat yang kelihatan jahat, jangan tinggal diam terhadap hal itu, hendaknya lekas melakukan tindakan yang tegas.

Tuhan menciptakan raja, untuk melindungi ciptaanNya. Untuk mencapai tujuan itu maka sang Raja harus memiliki sifat-sifat yang kekal pada Dewa Indra, Bayu, Yama, Surya, Agni, Waruna, Candra dan Kuwera. Yang kesemuanya tersebut tertuang dalam ajaran Asta Brata.

Raja identik dengan pemimpin. Kalau dicermati kata dasar dari pemimpin adalah “pimpin” yang artinya “tuntun”. Maksudnya adalah seorang pemimpin memerlukan tuntunan, agar mampu berjalan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang telah disepakati. Untuk dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin yang bijaksana maka harus mendasarkan diri kepada konsep Agama, Igama dan Ugama, dalam ajaran Agama Hindu.

Konsep berasal dari Panca Talaning Wisata Budaya, terdiri dari : Agama, Ugama, Igama, Sila Krama dan Sima Krama. Agama adalah agama Hindu yang ada di Bali yang kaya akan falsafah dan mythologi serta ajaran-ajarannya karena ia merupakan perpaduan yang serasi antara Hinduisme, Hindu Jawa dan unsur kebudayaan Bali asli. Ugama adalah pelaksanan dari ajaran agama di bidang upacara dan upakara. Kemudian menimbulkan adanya seni tari, seni sastra, seni krawitan, seni ukir dan seni budaya yang lainnya. Igama adalah ajaran ketata susilaan bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat di Bali. Sila Krama adalah Pelaksanaan ajaran-ajaran di atas di dalam masyarakat Bali yang disesuaikan dengan kala, patra dan desa. Sima Krama adalah Pekraman/ silahturahmi anggota masyarakat desa adat yang sudah dilaksanakan sejak waktu yang lalu, maka ia merupakan adat yang mempunyai kesamaan dan perbedaan di masing-masing desa adat.

Patih Gajah Mada dalam mengendalikan Bali setelah ditaklukkan, menggunakan konsep Asta Dasa Berata Pramiteng Prabhu. Yang dimaksud dengan Asta Dasa Berata Pramiteng Prabhu dari Gajah Mada adalah 18 (delapan belas) kewajiban pokok pengendalian diri seorang pemimpin yaitu :
1. Wijaya; bersikap tenang dan bijaksana.
2. Matri Wira; berani membela yang benar.
3. Natanggwan; mendapat kepercayaan rakyat,
4. Satya bhakti a prabhu; taat kepada pemimpin/pemerintah.
5. Wagmi wak; pandai bericara dan meyakinkan pendengar.
6. Wicak saneng naya; cerdik menggunakan pikiran.
7. Sarja wopasana; selalu bersikap rendah hati.
8. Dirotsaha; rajin dan tekun bekerja.
9. Tan satresna; jangan terikat/mengikatkan diri pada satu golongan atau persoalan.
10. Masihi semesta Buwana; bersikap kasih sayang kepada semuanya.
11. Sih Semesta buwana; dikasihi oleh semuanya;
12. Negara Ginang Pratidnya; selalu mengabdi dan mendahulukan kepentingan negara.
13. Dibya cita; toleran terhadap pendirian orang lain.
14. Sumantri; tegas dan jujur.
15. Anayaken musuh; selalu dapat memperdaya musuh.
16. Waspada Pubha wisesa; waspada selalu/introspeksi.
17. Ambeg Paramartha; pandai mendahulukan hal-hal yang lebih penting.
18. Prasaja; hiduplah sederhana.

Kutipan di atas menunjukkan bahwa ; kalau rajanya bingung dengan pergi ke hutan melakukan tapa berata, maka seorang raja akan lebih banyak dipengaruhi oleh sifat sattwamnya. Sehingga segala peraturan yang ada dalam kitab suci akan dilaksanakan dengan baik. Apabila rajanya bingung, kemudian melakukan pengendalian diri melalui kegiatan berburu di hutan berarti dipengaruhi oleh sifat Rajas, sehingga rakyat juga ikut merusak alam seperti membabat hutan. Kalau rajanya bingung, kemudian melakukan pengendalian diri melalui mengkonsumsi minuman keras dan mabuk-mabukan berarti dipengaruhi sifat Tamas, sehingga rakyat juga terkena dampaknya. Kalau rajanya mabuk, rakyatnya juga teler. Rajanya gila, rakyatnya cenderung gila-gilaan. Rakyatnya sebagai pedagang kecil di warung ditangkap menjual miras rajanya harus juga ditangkap.

Kalau negara ini ingin baik, tidaklah sulit bagi seorang pemimpin. Cukup melaksanakan Agama, Ugama dan Igama, sesuai ajaran Agama Hindu.
Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu Ajaran Kepemimpinan Gajah Mada - Paris Sweet Home
Kepemimpinan dalam kitab Mahabharata!

Penulis berharap pembaca sekalian “dibesarkan” oleh kisah-kisah yang berada di dalam komik (disadur dari kitab Mahabharata) karya RA Kosasih. Sungguh, meskipun kisah-kisah tersebut sangat panjang, rumit dan memakan waktu lama untuk dipahami, namun penulis sangat menikmati kisah yang dibawakan dengan utuh oleh RA Kosasih ini.

Meskipun Kitab Mahabharata berasal dari agama Hindu, namun kisah-kisah berikut penokohan yang ada di dalam kitab tersebut sangat relevan di dalam memahami subjek kepemimpinan. Kisah kepahlawan, riwayat hidup raja-raja; keruntuhan dan berdirinya kerajaan; kebijaksanaan dalam memerintah kerajaan, nilai atau peri hidup yang dianut manusia pada zaman dahulu, digambarkan dengan rinci dalam kisah Mahabharata ini. Dibangun dengan rangkaian cerita berlapis yang penuh konflik dan intrik, kisah anak manusia selama 4 hingga 5 generasi lebih dituturkan dalam 16 buku.

Penulis dalam pemahaman kanak-kanak menerjemahkan arti kisah tersebut dengan sangat sederhana, yakni “tidak meniru karakter antagonis/jahat”. Karakter jahat yang penulis maksud seperti: suka berbohong, licik, menindas dan memperdaya orang lemah, dan berlaku tidak adil. Di dalam Mahabharata dikisahkan bagaimana kesudahan orang-orang yang "berkarakter jahat" tersebut. Lalu pelajaran yang kedua adalah senantiasa berbuat baik dan berlaku adil karena keadilan dan kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan.

Namun semakin bertambahnya usia, pandangan kanak-kanak tersebut semakin jauh berkembang. Esensi cerita bukan lagi tentang masalah karakter “antagonis/ jahat” yang mesti dijauhi, namun kisah tersebut berkembang menjadi lebih kompleks:
• Bagaimana memahami berbagai tipologi kerajaan/ organisasi/ negara, seperti “Hastinapura vs Indraprasta”;
• Bagaimana sejatinya sifat kepemimpinan itu? Apakah seperti: “Sri Kresna Sang Pembawa Kebijakan”;
• Bagaimana karakter kepemimpinan kitab Mahabharata? Apakah seperti: “Yudistira yang Jujur”, “Sangkuni sang Penjilat”, atau “Duryudana sang Penjahat”? dst.


Kepemimpinan dalam Kitab Mahabharata
Dalam kisah Mahabharata, yang sudah ditulis ribuan tahun yang lalu, sudah ditulis runtun bahwa kepemimpinan yang adil dan bijaksana akan membawa kemakmuran dan ketentraman bagi rakyatnya. Di bawah pemerintahan “Yudhistira yang jujur”, adanya penegakan dan kepastian hukum akan menarik para saudagar dari kerajaan-kerajaan lain. Sehingga kerajaan dipimpin raja yang senantiasa mengayomi raknyatnya akan semakin maju dan tumbuh sebagai pusat kegiatan perekonomian.

Meskipun kerajaan semula dipimpin oleh raja yang bijaksana, oknum-oknum yang berpotensi “melemahkan kerajaan” senantiasa ada. “Duryudana sang Penjahat” yang saat itu belum menjadi raja dapat dijadikan contoh: sebagai pimpinan “klan Kurawa”, ia secara jelas menunjukkan bahwa ia bukanlah karakter pimpinan yang baik. Ia adalah orang yang selalu melanggar hukum dan etika. Ia akan senantiasa mengakali sistem, dan membuat sistem tersebut lemah, bahkan tunduk atas kehendaknya. “Duryudana sang Penjahat” memiliki basis kroni yang kuat: bersama 98 saudaranya, ia membentuk kerajaan yang terus berekspansi, namun dibangun di atas sistem yang korup.

Di bawah "kepemimpinan Duryudana", dibalik kemajuan negara/ kerajaan yang dia pimpin, rakyat gelisah karena tidak dilindungi hukum; ketimpangan ekonomi terjadi, dimana seringkali terjadi penjarahan dan perampokan di pintu-pintu perbatasan kerajaan; punggawa-punggawa dan petinggi seringkali melanggar hukum dan korup; sehingga terjadi arus migrasi ke kerajaan-kerajaan lain yang memberikan kepastian dan perlindungan hukum.

Oknum lain yang melemahkan kerajaan adalah “Sangkuni sang Penjilat”. Ia adalah oportunis yang sangat licik dan tamak. Asalkan kepentingannya didahulukan, Ia tidak ragu memihak kepada siapapun, meskipun itu akan menyakiti lawan maupun kawan. Lambat laun, iapun membangun kekuatan yang secara korosif merusak organisasi. Kerusakan moralpun semakin menjadi, dimana anggota organisasi menjadi semakin permisif melakukan pelanggaran, korupsi bahkan perampokan semakin meraja-lela di tengah-tengah masyarakat. Karena itulah di tengah-tengah pemerintahan sang Raja yang bijaksana, kehadiran “Sangkuni sang Penjilat” tidak dirasakan dalam waktu yang lama. Namun ibarat bom waktu atau penyakit kanker, ia akan melumpuhkan kerajaan begitu ia memperoleh kekuatan. Dan secara kebetulan, kisah yang sudah ribuan tahun ditulis ini terjadi tidak jauh dari halaman rumah kita.


Penutup
Tentunya pembaca senantiasa ingin agar kebangunan organisasi/ kerajaan/ negara dapat bertahan lama, tidak diganggu oleh efek “korosif” dan “korup” yang dipraktikan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Kisah Mahabharata memberikan banyak sekali perumpamaan bagi pembaca sekalian dan dirasa sangat relevan dengan kompleksitas organisasi modern.
Bagaimana dengan organisasi anda?
Posted by Dheeneedaily at 8/25/2010 http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif

tri guna



TRI GUNA
  1.  Pengertian Triguna dan Bagian-Bagianya
Tri artinya tiga Guna artinya sifat atau bakat jadi Triguna adalah tiga sifat dasar yang terdapat pada setiap yang ada dijagat raya ini baik makhluk hidup maupun benda mati. Ketiga sifat itu mempengaruhi manusia sejak masih dalam kandungan sampai akhir hidupnya, hanya saja dalam prosentase yang berbeda-beda dan selalu berubah-ubah. Perubahan pengaruh guna itulah menyebabkan tabiat manusia berubah-ubah dan triguna tidak seimbang menjadikan bermacam-macam sifat manusia.
Ada tiga sifat alam material diseluruh jagat yang didapat oleh manusia, untuk melakukan sesuatu, namun ketiganya ini merupakan bagian-bagian yang tak dapat dipisahkan antara satu dengan bagian yang lainnya walaupun ketiga sifat ini berbeda-beda, karena merupakan satu kesatuan yang utuh. Prakerti dibangun oleh tri guna, yaitu sattwa, rajas, dan tamas. Guna artinyta unsur komponen penyusun. Tri guna itu tidak dapat kita amati dengn indria. Adanya itu disimpulkan dengan objek dunia ini yang merupakan akibat dari padanya. Karena adanya kesamaan azas antara akibat dan sebab, maka dapat kita ketahui sifat-sifat guna itu dari alam yang merupakan wujud hasil dari padanya. Semua objek dunia ini memiliki tiga sifat, yaitu sift-sifat yang menimbulkan rasa senang, susah dan netral. Demikian sifat-sifat ini terkandung dalam dalam sattwa, rajas, dan tamas itu. 
      Dalam Werespati tattva disebutkan, sattvam bersinar terang-bersih-tenang, rajas bergejolak dan dinamis, tamas malas-lamban dan dungu/gelap demikianlah ketiga guna ini membelenggu manusia sehingga terjadinya bermacam-macam sifat manusia tesebut seperti : Tenang, suci, bijaksana, cerdas, jujur, desiplin, rajin Lincah, gesit, kasar, cepat tersinggung, keras kepala, congkak, emosi, ego Mengantuk, bodoh, malas, kumal, lambat 

Dengan keyakinan yang tinggi mengikuti petunjuk dharma dan dengan latihan yang diaktualisasikan dalam perbuatan sehari-hari tanpa mengharapkan hasil dan selalu menyerahkannya kepada Tuhan, menyadari ini semua adalah sudah merupakan kehendak-Nya, keberadan ini semua hanya tugas dan kewajiban yang harus dijalankan sesuai dengan swadharma masing-masing.
Alam material yang memiliki tiga sifat sangat kuat mengikat yang kekal dalam makhluk yang hidup, seperti dikatakan dalam kitab suci Bhagavad Gita adyaya 14.5 sebagi berikut :
sattvam rajas tama iti gunah prakrti-sambhavah
nibadhnanti maha-baho dehe dehinam avyayam

Artinya :
Alam material terdiri dari tiga sifat-kebaikan, nafsu dan kebodohan. Bila makhluk hidup yang kekal berhubungan dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.(Prabhupada, 1986: 663)

            Dengan demikian walaupun makhluk hidup bersifat rohani, yang tidak  mempunyai hubungan dengan alam material, akan tetapi oleh karena para makhluk hidup memilih jenis badan, dimana badan yang memiliki dunia material, ini sangat mungkin mengakibatkan dorongan untuk bertindak menurut sifat alam yaitu kebaikan, nafsu dan kebodohan. Semua tindakan ini menimbulkan karma yang hasilnya tentu akan menyesuaikan, karena seperti anak seekor lembu tidak akan pernah keliru mencari susu induknya.  
Dengan demikian jelas sekarang bagian-bagian triguna tersebut terdri dari tiga sifat karena akan membentuk karakter atau watak manusia yang sesungguhnya telah diporelehnya sejak lahir dan tidak dapat dihindari, maka untuk dapat melakukan karma baik, melebur karma buruk dapat di uraikan bagian-bagian triguna sebagai berikut :
a.  Sattwa
Sattvam adalah sifat kebaikan dimana sifat ini membentuk karakter manusia untuk selalu berbuat kebaikan karenanya manusia bisa berpikir berkata melakukan sesuatu dengan baik, bijaksana, cerdas, sopan, desiplin, jujur dalam menegakkan dharma. 


b.      Rajas
Rajas adalah sifat nafsu dimana sifat ini membentuk karakter manusia untuk selalu memiliki pengaruh kecendrungan berpikir berkata dan berbuat penuh dengan nafsu, angkuh, sombong, cepat tersinggung, rakus, haus kekuasaan dan dalam melakukan apa saja tidak pernah mau mengalah atau tidak pernah merasa salah menganggap dirinya selalu paling benar.
c. Tamas
Tamas adalah suatu sifat yang dimiliki oleh manusia yang memberi pengaruh malas, pasif dan masa bodoh. Sehingga ini terkadang manusia bisa tidak mengindahkan apapun yang terjadi selalu cuek atau masa bodoh, selalu berhayal tidak mau tahu apapun yang akan terjadi terkadang resiko yang fatalpun siap diterimanya.

  1. Akibat-Akibat Ikatan TriGuna
Akibat-akibat ikatan triguna terhadap Sang Makhluk hidup (Jiva) yaitu;
  1. Sang jiva mengembangkan jenis sraddha (kepercayaan) tertentu selain kepada Tuhan. (a) Sraddha dalam sifat sattvam (kebaikan). (b) Sraddha dalam sifat rajas (kenafsuan), dan (c) Sraddha dalam sifat tamas (kegelapan).
  2. Sang jiva secara keliru menganggap dirinya sendiri sebagai pelaku atas segala kegiatan yang dilakukannya. karena di-ikat oleh Tri Guna, sang makhluk hidup jadi terkhayalkan dan menganggap dirinyalah menjadi pelaku atas segala kegiatan yang dilakukannya, padahal kegiatan-kegiatannya itu terlak sana oleh alam material.
  3. Sang jiva jadi sibuk dalam kegiatan material memuaskan indriya jasmani di alam material. diikat oleh Tri Guna, sang makhluk hidup (jiva) menjadi sibuk dalam berbagai kegiatan pamerih dan menjadi terikat pada hasil kegiatannya itu”
  4. Sang jiva dipaksa berpindah-pindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lain dan hanyut dalam samudra kehidupan material dunia fana. begitulah sang makhluk hidup (jiva) yang tinggal di alam fana, berusaha menikmati kesenangan material dalam ikatan Tri Guna, karena di-ikat oleh Tri Guna, maka ia merasakan suka dan duka dalam berbagai jenis kehidupan material yang dialaminya
  5.  Sang jiva tidak tahu bahwa sri krishna adalah bhagavan, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dikhayalkan oleh Tri Guna, seluruh dunia tidak mengenal diriKu (sebagai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) yang mengatasi ketiga sifat alam material itu dan kekal abadi.
  1.  Manfaat Lepas Dari Ikatan Tri Guna
Manfaat lepas dari ikatan tri guna adalah;
  1.  Sang jiva mengerti bahwa sri krishna adalah bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa,  bila anda melihat bahwa segala peristiwa yang terjadi adalah tidak lain dari pada interaksi unsur-unsur Tri Guna, dan bahwa Tuhan mengatasi ketiga sifat alam material ini, maka barulah anda mengerti hakekat spiritual diriKu
  2. Sang jiva mencapai tingkat spiritual Brahma-bhuta yang menjadi prasyarat untuk kembali ke dunia rohani,  jika seseorang telah bebas dari ikatan Tri Guna, maka dia mencapai kedudukan spiritual brahma.
  3.  Sang jiva mencapai kebahagiaan abadi di dunia rohani vaikunthaloka.
kalau seseorang bebas dari ikatan Tri Guna, maka dia bebas dari kelahiran,  kematian,  usia tua dan kesengsaraan (penyakit) dan mencapai kebahagiaan sejati bahkan dalam masa hidup nya ini juga
Adapun ciri-ciri orang yang telah terlepas dari Tri Guna adalah Dia tidak membenci pencerahan spiritual, kemelekatan (pada hal-hal material) ataupun khayalan bilamana hal-hal itu datang. Juga dia tidak menginginkannya jika hal-hal itu lenyap. Dia tetap tenang tanpa rasa keprihatinan apapun, sebab dia berada diluar pengaruh unsur-unsur Tri Guna. Dia hidup mantap (dalam keadaan apapun), sebab dia sadar bahwa hanya unsur-unsur Tri Guna itu  saja yang aktip. Dia merasakan suasana senang dan susah sama  saja, menerima cacian dan pujian dengan sikap sama, melihat segumpal tanah, sebiji batu dan sekeping emas dengan  pandangan (dan perasaan) sama. Dia tidak pernah merasa terganggu meski dihina atau pun disanjung. Dia memperlakukan sahabat ataupun musuh dengan cara sama, dan bebas dari segala kegiatan pamerih apapun.
D.     Pengaruh Triguna pada Kehidupan Pribadi Seseorang
1.      Orang yang dikuasai oleh sifat sattwa biasanya berwatak tenang, waspada, dan berhati yang damai serta welas asih. Kalau mengambil keputusan akan ditimbang terlebih dahulu secara matang, kemudian barulah dilaksanakannya. Segala pikiran, perkataan, dan perilakunya mencerminkan kebijaksanaan dan kebajikan. Seperti tindakan Sang Yudistira dan Sang Krishna dalam cerita Mahabharata, dan tindakan Sang Rama dan Wibhisana dalam cerita Ramayana.
  1. Orang yang dikuasai oleh sifat rajas biasanya selalu gelisah, keinginannya bergerak cepat, mudah marah dan keras hati. Orangnya suka pamer, senang terhadap yang memujinya dan benci terhadap yang merendahkannya. Yang baik pada sifat rajah itu adalah sifat giat bekerja dan disiplin.
  2. Orang yang dikuasai sifat tamas biasanya berpikir, berkata, dan berbuat sangat lamban. Kadang-kadang enggan, malas, suka tidur, rakus, dan dungu. Besar birahinya, keras keinginannya, serta suka tidur campur dengan anak dan istrinya.
  1. Tujuan Mempelajari Tri GUna  
1.      Memperoleh cara yang tepat untuk meningkatkan sifat Sattwam terhadap pengembangan budhi pekerti.
2.      Memberikan keyakinan bahwa melalui pengembangan budhi perkerti, tujuan agama hindu tentang moksa akan tercapai.


Kesimpulan

Tri artinya tiga Guna artinya sifat atau bakat jadi Triguna adalah tiga sifat dasar yang terdapat pada setiap yang ada dijagat raya ini baik makhluk hidup maupun benda mati. Ketiga sifat itu mempengaruhi manusia sejak masih dalam kandungan sampai akhir hidupnya, hanya saja dalam prosentase yang berbeda-beda dan selalu berubah-ubah. Perubahan pengaruh guna itulah menyebabkan tabiat manusia berubah-ubah dan triguna tidak seimbang menjadikan bermacam-macam sifat manusia.
sattvam bersinar terang-bersih-tenang, rajas bergejolak dan dinamis, tamas malas-lamban dan dungu/gelap. Karena dunia ini terbentuk dari tri guna itu, maka dlm dunia inipun kita saksikan selalu ada pertentangan dan kerja sama dalam kesatuan. Ketiga guna ini selalu bersama dan tidak pernah terpisah satu sama lainny, tidak dapat hanya salah satu dari padanya membangun benda-benda dunia ini. Kerja sama ketiga guna itu laksana minyak, sumbu, dan api yang bersama-sama menyebabkan adanya nyala lampu, walaupun masing-msing elemen itu berbeda-beda yang sifatnya bertentangan.
Ada dua perubahan bentuk tri guna itu , yaitu pada waktu pralaya msing-msing guna berubah pada dirinya sendiri, tanpa mengganggu yang lain. Perubahan seperti ini disebut swarupaparinama. Pada waktu demikian tidak mungkin ada ciptaan, karena tidak ada kerja sama antaraa guna-guna itu.  Namun bila guna yang satu menguasai yang lain, maka terjadilah suatu penciptaan. Perubahan ini disebut wirupaparinama  





DAFTAR PUSTAKA
I Made Nada Atmaja, dkk. 2010. Etika Hindu, Paramitha Surabaya ( halm. 62)
Drs. K.M. Suhardana. 2008. Niti Sastra. Ilmu Mepemimpinan atau management Berdasarkan Agama Hindu, Paramita Surabaya (halm. 99)
I Gede Sura dan I Wayan Sukayasa. 2011. Samkya dan Yoga, Widya Dharma (halm.3)   

Sejarah Veda



SEJARAH PERKEMBANGAN VEDA
A.   Pengertian weda
            Veda berasal dari akar kata vid yang artinya tahu akhirnya dari vid menjadi Weda yang artinya ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pengartian Weda dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu :
1.      Weda yang berarti ilmu pengatahuan bentuk tulisannya biasa.
2.       Weda yang berarti mantra-mantra atau ucapan-ucapan suci dengan aturan-aturan tertentu, bentuk tulisannya harus memakai a dirge (panjang) yaitu Weda.
Perlu diketahui bahwa Weda berbentuk sloka, kecuali beberapa bagian dalam bentuk prosa berirama. Weda mengandung sloka-sloka dan prosa yang paling  kuno dalam sejarah umat Hindu
            Bahasa yang dipakai dalam ajaran Veda pada mulanya adalah bahasa “Deiwi Wak” yang artinya bahasa Dewata. Akhirnya lama kelamaan mengalami perubahan menjadi bahasa Sansekerta. Perubahan itu diperkirakan sekitar tahun 200 SM. Setelah berubah dari bahasa Daiwi Wak menjadi bahasa Sanskerta barulah isi weda itu dapat dipelajari dan dipahami oleh orang-orang kebanyakan terutama didaerah India dan sekitarnya bahkan sampai ke Indonesia.
            Weda ada empat macam, yaitu
-          Rg veda, yang terdiri dari 10.552 mantra (stanza),
-          Sama veda, 1.875,  
-          Yajur veda (teks Vajasaneya Samhita) 1.975 (beberapa mantra dalam bentuk prosa) dan
-          Atharya veda, 5.987 (ada stanza-stanza dalam bentuk proses).
Kumpulan Veda seluruhnya berjumlah 20.389 mantra, tidak termasuk kitab-kitab yang bersumberkan Veda seperti Brahmana, Aranyaka, Upanisad, dan lain-lain. Namun jumlah tersebut termasuk pengulangan, terutama sejumlah sloka Rg Veda yang diulang dalam veda-veda lainnya. Biasanya sloka digambarkan orang sebagai sloka-slok primitive. Jika yang dimaksud sloka primitive itu nyanyiam suatu suku bngsa atau balada rakyat, maka haal itu jauh dari kenyataan, sebab penyair primitif tidak akan melantunkan lagu:
Pikiran adalah laksana bantal dipanya, penglihatan adalah salep matanya  ( Rv. X.85.7)

Apabila kita bersikeras menganggap sloka weda itu primitif, kita harus mengacu pada kemurnian awal dan keterlepasannya dari pengaruh buruk peradaban berikutnya. Agama weda dapat bertahan hidup hingga beribu-ribu tahun meskipun mengalami pergolakan social politik dan serangan gencar terhadapnya dari masa kemasa. Beranjak dari serangan dan reaksi agama terhadapnya mungkin memberinya beberapa sinar pada kekuatan batin. Dalam weda kita tidak menemukan adanya tragedi keterpisahan jiwa, dan penderitaan serta kesengsaraan yang menyertainya, tidak ada juga perasaan tertekan dari tradisi kosmisi dan kesedihan yang diakibatkan oleh-Nya. Karena para Rsi Weda mencintai kehidupan dan Tuhan maka setiap keinginan mereka akan kebaikan dunia dilaahirkan dalam bentuk doa yang bersemangat. Dan doa itu sering kali berbentuk nyanyian yang ditijikan kepada ‘pecinta nyanyian yang utama ‘ (Rv.1.10.12).
Bahasa Weda ditandai oleh pengungkapan yang sangat hemat. Bahasanya sering pula padat sehingga artinya menjadi kabur. Penggambaran kehidupan dan alam yang indah memberi arti yang mendalam namun tersembunyi. Istilh guha-hita  atau guha –nihita sering digunakan dalam Weda untuk menyatakan kebenaran mistis.  Orang-orang bijaksana India, sejak jaman sesudah Weda sampai jaman kita sekarang ini terus mencari dan mencari untuk menemukan pewahyuan kebenaran spiritual terdalam dalam Weda.

B.    Bahasa Dalam Weda
        Sebelum weda mulai diselidiki Bhagawan Panini mulai menyusun tata bahasa sanskerta, pada tahun 700 SM, dan menanamkan bahasa yang dipakai dalam weda dengan nama “Daiwi Wak” (bahasa dewata). Baru dalam tahun 200SM, bahasa itu mulai dikenal dengan nama sanskerta, setelah Patanjali menulis kitab Bahasa, pada abad ke 11 SM. Nama sanskerta yang untuk pertama kali diperkenalkan oleh Patanjali yang untuk menyebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa pergaulan Bharatawarsa.
Kemudian bahasa itupun dibedakan pula dari bahasa pali, bahasa yang dipakai oleh orang-orang Maghadhi didalam penyebaran Agama Budha.
        Setelah Bhagawan Panini berhasil menyusun tata bahasa sanskerta, jejak beliau diikuti oleh Bhagawan Katyayana yang lebih popular dikenal dengan Bhagawan Wararuci pada abad V SM. Beliau menulis keterangan-keterangan tambahan atas karya Panini disamping sebagai penulis Sarasamuccya, yang karyanya telah diterjemahkan di Indonesia kedalam bahasa Jawa Kuno pada waktu jaman keemasan Hindu di Jawa dan dialihkaan bahasanya kedalam bahasa Indonesia tahun 1970.
        Sejarah pertumbuhan bahasa sanskerta setelah lahirnya kitab tata bahasa Panini itu kemudian membntu mempercepat proses pertumbuhannya sehingga dalam pertumbuhan abad kedelapan, Sanskerta menjadi bahasa percakapan sehari-hari.
        Kitab-kitab agama di Indonesia semuanya dalam bahasa sanskerta, tetapi karena diIndonesia terdapat bahasa tersendiri, karena itu untuk menjelaskan pokok-pokok ajaran agama itu penjelasannya dilakukan kedalam bahasa Kawi. Dari mantra-mantra dan kitab-kitab agama yang kini masih tersimpan dalam bentuk lontar-lontar umumnya terdiri dari dua bahasa yaitu bahasa sanskerta dan bahasa Kawi atau Jawa Kumo.
        Teks sanskerta adalah naskah asliya, sedangkan bahasa Kawinya adalah terjemahan atau terjemahan berikut komentarnya. Misalnya kitab sarasamuccaya, Sang Hyang Kamahayanikan dll, system penyajian umumnya sama, kecuali naskah perubahan bahasa yang bersifat sastra, baik sebagai Nibanda Saastra, misalnya Kekawin Ramayana, Gatotkacasraya, Bharatayudha, dll, semuanya ditulis kedalam bahasa Kawi yang banyak meminjam bahas sanskerta itu.
        Karena itu didalam mempelajari itu, pengenalan bahasa sanskerta, bahasa Kawi dan bahasa Jawa Kuno sangat diperlukan. Hanya dengan demikian kita akan dapat mengungkapkan isi weda itu nanti.  

C.   Cara Weda diwahyukan.
        Tidak ada satu uraian tepat bagaimana wahyu itu diturunkan, kecuali melalui penafsiran atau keterangan tak langsung dari berbagai ulasan yang dapat kita himpun dari berbagai buku sebagai sumber inspirasi. Perlunya pengetahuan bagaimana weda itu diwahyukan karena pada mulanya bahwa weda adalah wahyu Tuhan yang diyakini oleh umat Hindu dan kebenaran akan wahyu itu tidak boleh dibantah lagi karena weda itu adalah wahyu, maka adalah wajar pula kalau kita bertanya dan mencari jawaban atau penjelasan yang dapat mengungkapkan bagaimana wahyu itu diturunkan.
        Penjelasan yang dapat dikaji dalam memberi ulasan tentang turunnya wahyu Tuhan adalah melalui tafsir dan keterangan-keterangan yang dapat diperoleh dari weda itu pula. Yang penting yang harus diyakini dan diimani adalah tahap pertama, adanya peranan mediator antara Tuhan dengan penerimnya yaitu pra Maharsi, dimana dewa Brahma sebagai dewa Sabda dinyatakan menyampaikan kata-kata itu pada penerimanya. Ada berbagai cara atau proses yang dapat kita jumpai tentang bagaimana wahyu itu sampai pada Maharsi yaitu :
1.      Menjelaskan bahwa itu dimasukkan langsung kedalam pikiran orang atau memasukkannya dalam-dalam kedalam hatinya. Kata-kata itu member kesan dan bentuk rupa atau keadaan yang kemudian menemukan bentuknya berkembang dalam pikiran.
2.      Wahyu itu membentuk kesannya dengan melalui contoh perintah langsung yang dilakukan oleh dewa-dewa yang dinyatakan dewa-dewa memperlihatkan dirinya dalam berbagai bentuk manusia biasasebagaimana dapat kita tafsirkan dalam uraian kitab-kitab purana. Ajaran yang diberikan oleh dewa-dewa itulah yang akhirnya dibukukan sebagai ajjaran,sabda Tuhan karenan sabda itu sendiri adalah adalah sabda dewata.
3.      Wahyu diturunkan seperti suara gemanya lonceng. Gema atau AUM itulah yang yang membentuk rupa dalam Aksara dikenal sebagi outtara atau disebut SWARA NADA. Swara  Nada inilah yang merupakan gemerincingnya suara melahirkan kata-kata yang member petunjuk mengenai arti dan makna suara-suara itu sendiri. Cara ini yang paling sulit dalam ilmu, dan karena itu bagian ini pula yang dinyatkan bagin yng paling rahsiaa.
4.      Dewa-Dewa yang memperlihatkan dirinya dalam berbagai bentuk yang mulia. Kejadian ini agak berbeda dari proses yang disebut dalam uraian no.2 diatas, karena dalam uraian no.2 dewa-dewa didalam manifestasinya dalam bentuk manusia biasa. Penggambaran turunnya wahyu seperti dalam kejadian ini, hanya dilukiskan sebagaimana manusia secara impiris, secara langsung berhadapan dengan dewa yang mnenyampaikan pewarah-warahnya kepada si penerima.
        Pengumpulaan berbagai mantra menjadi himpunan buku-buku adalah merypakan kodifiksi Weda. Ayat-ayatnya yang begitu banyaknya yang telah diturunkn kedunia  tidak diturunkan sekaligus atau bersamaan ditempat yang sama, melainkan  dari jaman ke jamaan meliputi ribuan tahun. Untuk mencegah ayat-ayat tersebut agar tidak hilang dan dapat diingat banyak usaha yang dilakukan untuk menyusun dan menyimpulkan ayat-ayat itu.
        Berdasarkan system pertimbangan materi dan ruang lingkup isinya jelas kalau jumlah jenis buku Weda itu banyak. Maha Rsi Manu membagi isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut
1.      Weda Sruti, dan
2.      Weda Smerti.
        Kedua-duanya merupakan sumber hukum yang mengikat yang harus diterima, oleh karenanya Bhagawan Manu menegaskan didalam kitabnya Manawadharma sastra II.10 :

Srutistu wedo wijneyo
Dharmasa atram tu wai smrtih
Te sarwatheswam immamsye
Tabbyam dharmo hinirbabhau
Artinya:
Sesungguhnya sruti (Wahyu) adalah weda demikian pula smrti itu adalah dharmasastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga, karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari hukum suci itu (Dharma).

D.   Sapta Rsi penerima Wahyu
        Kitab suci Weda diwahyukan melalui sapta rsi. Sapta Rsi adalah tujuh Rsi. Sapta Rsi ini adalah tergolong golongan Wipra yng dinggap sebagai Nabi penerima wahyu yang pertama didalam Weda (Rg. Weda). Istilah Rsi tidak sama artinya dengan pendeta, walaupun kadang-kadang diartikan demikian seperti terdapat dibeberpa daerah.
        Seorang Rsi mempunyai sifat-sifat tertentu dan jabatan tertentu. Ia adalah pendeta dan jiga sastrawan, jadi sukarlah untuk mengatakan kedudukan Rsi yang sebenarnya, sedangkan dewasa ini rsi adalah pendeta. Oleh Karen itu untuk membedakan arti kata Rsi sekarang dengan arti kata Rsi jaman dahulu, biasanya digunakan istilah Maha Rsi yang artinya Rsi yang agung dan utama melebihi dengan Rsi-Rsi lainnya. Dalam hubungan ini di adalah Nabi dan dia adalah Wahyu.
        Tujuh Rsi ini merupakan  Rsi-rsi yang paling banyak disebut namanya, baik sebagai Nabi maupun sebagai sastrawan. Ketujuh itu merupakan kelompok-kelompok keluarga dari padanyalah semua ayat-ayat yang terdapatdalam Weda ini dianggp sebagi sumbernya sebab dialahyang menerima pertama melalui Dewa Brahma (sebagai malaekat) yang menyampikan ayat-ayat itu.           
 Ketujuh keluarga  Maha  Rsi penerima wahyu Tuhan yaitu:
1.      Mah Rsi Grtsamada,  yaitu Maha Rsi yang dihubungkan dengan turunnya ayat-ayat Weda (Rg Weda) terutama mandala II, Beliau adalah keturunan Sunahotra dari keluarga Angira.
2.      Maha RsiWiswamitra , yaitu Maha Rsi yang kedua yang menerima wahyu yang kemudian dihimpun dalam Weda,  Seluruh mandala III, yang memuat 48 sukta.
3.      Maha Rsi Wamadewa, yaitu Maha Rsi yang dihubungkan dengan turunny ayat-ayat Rg Weda dari mandala IV
4.      Maha Rsi Atri, yaitu Mha Rsi yang dihubungkan dengan turunnya ayat-ayat Weda yang dihimpun dalam  Mandala V, yang memuat 87 sukta
5.      Maha Rsi  Bharadwaja, yaitu Maha Rsi yang menerima  ayat-ayat Rg Weda yang dihimpun dalam mandala VI, yang memuat 75 sukta
6.      Maha Rsi Wasiswa, seorang Maha Rsi yang menerima wahyu ayat-ayaat Weda (Rg Weda) yang dihimpan pada mandala VIII, sedangkan mandala VII diterima oleh putrnya .
7.      Maha Rsi Kanwa, yaitu Maha Rsi yang menerima wahyu  yang dihimpun kemudian merupakan buku (  mandala) VIII
         Ketujuh Rsi ini kemudian menyebarkan dan mengajarkan wahyu yang diturunkan oleh Tuhan kepada murid-muridnya yang kemudian dilanjutkan dan diajarkan kepada semua umat. Sehingga weda dapat tersebar luas, dan dapat dikenal oleh seluruh umat.
        Selain ketujuh para Maha Rsi diatas, ada beberapa Maha Rsi yang lain penerima wahyu Tuhan yaitu
1.      Maha Rsi Sunahsepa,
2.      Bhagawan Wyasa (Byasa)
3.      Maha Rsi Agastya
4.      Dang Hyang Markandeya
5.      Mpu Kuturan
6.      Dang Hyang Dwijendra.


E.     Perkembangan Weda.
        Kitab suci agama Budha, Kristen, dan Islam mempunyai waktu yang telah ditetapkan baginya oleh para pemimpin Ulama mereka masing-masing. Kitab suci Tripitaka dikatakan telah ditulis pada jamannya maharaja Asoka, walaupun menurut akhli-akhli tertentu yang berwenang umur Budha dapat diterangkan berabad-abad terlebih dahulu. Kitab suci Injiil perjanjian baru kira-kira berasal dari tahun 2000an tahun yang lalu. Semua kitab suci ini mempunyai waktu yang historis yang ditetapkan baginya.
        Tetapi berbeda dengan kitab-kitab suci weda tidak seorangpun dapat mengatakan dengan pasti kapan kiranya kitab-kitab suci ini menjelma ke Dunia.  Namun demikian para orientalis akhli peradaban Timur sangat berhasrat untuk menemukan kapan kiranya kitab suci Weda itu disusun. Beberapa diantara mereka menyebutkan bahwa hal ini terjadi pada tahun 1500 sebelum tahun Masehi.
        Radhakrisnan       menyatakan bahwa jaman weda dimulai1500 SM yang meliputi jaman kedatangan bangs Arya dan penyebarannya di India serta penyebaran kebudayaan dan peradaban Arya itu.
        Selanjutnya berdasarkan suatu metode untuk menentukan isi kitab-kitab suci weda dikatakan didasarkan atas bukti-bukti pada gaya bahasa kitab suci tersebut yang berubah dari weda-weda upanisad dan sutra-sutra sampai  kepada kesusastraan Kawya.
        Atas dasar inilah, dengan jalan menyetujui perbedaan 200 tahun ini bagi pudarnya suatu gaya bahasa baru, maka diperhitungkan secara kasar dengan jalan menghitung kebelakang, bahwasanya kitab-kitab suci weda seyogyanya ditulis tahun 1500 SM
        Perkembangan weda pada mulanya adalah di India yaitu daerah Panjab dan Doab dianatara bangsa Arya dan Dravida. Selanjutnya dari sanalah perkembangan kedaerah sekitarnya dan juga sampai di Indonesia.
        Sejarah kebudayaan Indonesia jaman purba berlangsung sejak dari datangnya bangsa dan pengaruh Hindu pada abad-abad pertama tarik masehi sampai  ±  thun 1500 dengn lenyapnya kerajaan Majapahit. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah jaman praasejarah Indonesia, Karena terdapatnya keterangan-keterangan tertulis itu berupa batu0 batu tersurat, dan didapatkannya di Kutai (Kalimantan Timur) dan di Jawa Barat. Tulisan yang dipakai adalah hurup yang lazim di India Selatan, antara kira-kira abad ke-3 sampai ke 7. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa sanskerta, bahasa resmi di India yang diubah dalam bentuk syair. Maksud piagam-piagam itu adalah terutama  memuji kebesaran sang raja yang memerintah dewasa itu dan yang telah melakukan saji secara besar-besaran menurut upacara hindu untuk keselamatan dan kesejahteraan kerajaan serta rakyatnya.   
        Pandangan keTuhanan dalam Weda jauh lebih luhur dan rohaninya lebih mendalam dari kepercayaan yang biasanya dikenal sebagai kepercayaan monoteisme, politeisme dan henoteisme. Kepercayaan Weda mengisyaratkan adanya Dharma yang berarti hukum abadi, misalnya tentang Wisnu dikatakan bahwa “Ia menegakkan hukum abadi (dharmani)” (Rg Veda 1.22.18). Dharma berarti dasar-dasar agama, pola tingkah laku ideal yang diterima sebagai dasar kehidupan yang benar oleh tatanan keagamaan India Kuno, baik yang berTuhan, yang tidak berTuhan maupun yang tidak percaya adanya Tuhan

E.   Penyebaran Weda
        Penyebaran ajaran weda disasarkan ketentuan Rg Weda X.71.3.  Berdasarkan ayat-ayat itu sabda-sabda dalam weda akan tersebar luas serta menjadi popular melalui nyanyian dan lagu yang disampaikan melalui yadnya. Dengan demikian maka weda akan didengar oleh masyarakat umum tanpa mengenal batas karena golongan.
        Menurut Rg Weda X. 71 (4) menyebutkan adanya empat macam orang yang akan menyebarkan ajaran weda menurut profesi mereka masing-masing. Keempat tipe itu merupakan system penyebaran ajaran weda, yaitu:
1.      Akhli kawi sastra menyebarkan ajaran weda melalui profesi mereka, misalnya dengan menyusun tulisan-tulisan kawi atau puisi dan melagukannya sehingga setiap orang dapat turut mendengar, menikmati keindahan isi serta bentuk perubahan sastra.
2.      Seniman menyebarkan ajaraan weda melalui profesi mereka, misalnya dengan menyanyian atau melagukan sehingga setiap orang ikut menikmati keindahan perubahan isinya melalui perubahan-perubahan lagunya. Dengan demikian dilagukannyalah sabda-sabda dalam bentuk nyanyian, kekidungan dll, baik dalam bentuk mecapat maupun dalam bentuk kekawin seperti Gayatri, Usnik, Anustub, Brihati, Pankti, Tristub, Jagati, Manda, Malon, dsbnya.
3.      Akhli-akhli yang akan membahas, merubah, mengembangkan dsbnya, sehingga isinya dapat dimengerti, dirasakan dan dihayati sepenuhnya baik secra popular, maupun secara ilmiah. Melalui para akhli inilah ajaran weda tersebut disebarkan dan diyakini oleh setiap pembaca.
4.      Pendeta pemimpin upacara yadnya yang akan merumuskan, membudayakan dan mengembangkan melalui doa-doa improvisasi, penghayatan secara mistik sehingga keseluruhan ajarannya dapat dinikmati serta dihayati oleh seluruh lapisan masyarakat, baik mereka yang berpikiran maju, maupun mereka yang jalan pikirannya masih sederhana. Pendeta akan mengucapkan mantra-mantra dengaan menghayatkan den melagukannya sedangkan yang lain mendengar dan mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh pendeta tersebut. Ajaran inipun diketengahkan dalan Yajur Weda XIII

Rv. X. 71. 3. Menyebutkan;
Yajnena vacah padaviyamayan tam anvavindann rsisu pravistam,
Tam amrtya vyadadhuh purutra tm sapta rebha abhi sam navante.

Dengan melakukan korban suci mereka mengikutii tata-cara seperti kata
(vak) suci, yang dikuasai oleh orang-orang bijak(Rsi); setelah memperoleh
Pengetahuan itu, mereka melaksanakannya; dan ketujuh penyanyi melagukannya
Bersama-sama.
Melalui yajna-lah ajaran weda disebarluaskan. Maka hal-hal yang belum teruraikan dalam upacara, dinyanyikan oleh pendeta didepan umum. 

         















Daftar Pustaka
1.      Iketut Sadia BA, IB Damana, dan I Ketut Tika., Weda Untuk PGA Hindu, cetakan ke -1, Mayasari-Jakarta, 1982.
I wayan Maswin